MANAQIB SYEKH MUHAMMAD
SAMMAN AL-MADANI
بسم الله
الرحمن الرحيم
احمد من اصطفى من عباده من شاء بالولاية وخصصه بحمل أسراره وجذبه منه
اليه بسابق العناية وأشكره أن من علينا بالايمان بما جاءت به الأنبياء والأولياء
من أسراره الربانية ووفقنا لمتابعة سنتهم البهية وأصلى وأسلم على من سجد له الملك
وهو فى ظهر أبيه الصوري وعلى آله وصحبه وتابعيهم فى السبيل النوري
Artinya : Aku memuji akan
Allah SWT. Yang telah memilih Ia dari segala hamba-Nya akan orang yang
dikehendaki-Nya dengan dijadikannya sebagai Waliyullah, menentukan Ia akan dia
(wali) untuk membawakan segala rahasia-Nya. Dan Ia (Allah) menghampirkan akan
dia dari pada-Nya kepada-Nya dengan sebab terdahulu pertolongan-Nya. Aku
bersyukur kepada Allah SWT. Bahwa Ia mengarunia atas kami dengan mengimani
barang yang mendatangkan dengan dia oleh para nabi Allah dan segala waliyullah
dari pada segala rahasia-Nya yang bangsa ketuhanan. Dan aku memohonkan rahmat
dan sejahtera atas penghulu kita Nabi Muhammad SAW. Yang sujud kepadanya segala
malaikat sedangkan ia (Muhammad) masih terkandung di dalam tulang belakang
ayahnya yang zahirnya yaitu Nabi Adam as. Dan atas segala keluarganya dan
sahabatnya dan segala yang mengikut akan mereka itu pada jalan yang nurani dari
pada amal yang saleh.
Wa
ba’du (dan sesudah tersebut di atas) kemudian dari pada itu maka berkatalah
Syekh Siddiq Al-Madani Khalifah Sayyidi Sayyid Muhammad bin Abdul Karim
Al-Qadiri Al-Hasani As-Samman Al-Madani ra. : Hai segala saudaraku manakala aku
dengar dan aku lihat akan riwayat-riwayat dari pada guruku dari pada hadits Nabi
saw. : Bermula pada ketika dibaca manakib aulia Allah itu diturunkan oleh Allah
beberapa rahmat atas orang yang membaca dan orang yang mendengarkannya serta di
i’tikadkannya dengan yakin hatinya bahwa orang itu benar-benar waliyullah. Dan
aku (Syekh Siddiq) lihat pula beberapa murid yang dahulu itu mengarang ia akan
manakib gurunya serta dibacanya pada tiap-tiap tahun sekali yaitu pada hari
ketika wafatnya serta membaca Al-Qur’an, tahlil dan bersedekah mana sekuasanya
tetapi hendaklah bersama-sama dengan orang banyak, maka tatkala aku dengar yang
demikian itu yakni riwayat yang tersebut itu, maka sukalah hatiku mengerjakan
seperti yang demikian itu atas sekedar fahamku yang bebal ini, serta aku
himpunkan akan setengah keramat guruku yaitu Sayyidina As-Syaikh Sayyid
Muhammad Samman ra, ahli syariat dan tareqat dan hakikat, yaitu quthub didalam
negeri Madinah Rasul. Barang siapa berkehendak ziarah akan kubur Rasulullah
saw. padahal tiada minta izin kepadanya (Syekh Sayyid Muhammad Samman
Al-Madani) niscaya adalah ziarahnya itu sia-sia, jikalau sah pada dzahirnya
sekalipun.
Dan
adalah tabi’at ra. itu kasih sayang ia kepada orang yang thalibul ilmi
(penuntut ilmu) dan kepada orang yang alim-alim (orang yang berilmu) dan orang
yang saleh-saleh (orang yang baik, yaitu orang yang selalu menunaikan hak Allah
dan selalu menunaikan hak manusia) dan kepada segala orang-orang fakir dan
miskin.
Dan
lagi pula suka ia berkhidmat kepada segala orang yang datang ziarah ke kubur
Rasulullah saw. dari pada orang yang alim-alim dan orang yang saleh-saleh dan
dari pada segala orang yang awam (umum) dan khawas (tertentu/utama). Dan adalah
tabiat ra. itu ketika masih kecil hingga sampai had mursyidnya.
Dan
lagi pula ia sangat memuliakan ibu bapaknya, lagi pula mengekalkan musyahadah
al-wujud dan muraqabah dan ibadah hingga ia meninggalkan dari pada
adat dan melawani ia akan hawa nafsunya hingga dari pada yang halal sekalipun.
Dan
tiadalah tidur ia pada ketika malam hari melainkan sedikit jua dan apabila ia
diberi bantal oleh orang tuanya ketika ia hendak tidur maka keluh kesahlah ia
seperti orang yang sakit, dan apabila sampai sahur maka ia bangun dari pada
tidurnya lalu ia ratib sahur kemudian dari pada itu lalu ia sembahyang subuh
berjama’ah dengan orang banyak. Lalu pula ia ratib subuh hingga terbit matahari,
manakala terbit matahari kira-kira segalah maka bangkitlah ia sembahyang sunnat
Isyraq dua rakaat dan apabila sampai seperempat hari maka bangkitlah ia
sembahyang sunnat Dhuha sebanyak-banyaknya dua belas rakaat dan yang terafdhal
itu delapan rakaat.
Dan
lagi pula ra, membanyakkan puasa sunnah dan membanyakkan riyadhah dan menjauhi
dari pada ladzdzatud dun-ya (kesenangan dunia) hingga dari pada yang halal
sekalipun. Maka segala yang tersebut itu adalah halnya
dimasa kecil yakni sebelum balighnya. Pada masa itulah ia disuruh oleh orang
tuanya masuk kedalam siwan yakni tempat makan-makanan karena dia hendak diberi
makan oleh orang tuanya manakala selesai ia dari pada makannya dilihat oleh
orang tuanya tempat ia makan seolah-olah tiada dimakannya, kemudian dari pada
itu pergilah orang tuanya kepada gurunya membaca Al-qu’an di waktu kecil lalu di khabarkan
oleh orang tuanya dari pada hal ihwal anaknya tersebut, maka dijawab oleh
gurunya “jangan lah engkau takut akan anakmu itu tiada syak dan ragu lagi
bahwasanya ia adalah waliyullah dan tiada khilaf lagi antara segala ulama”.
Dan
apabila ra. itu melihat akan orang tuanya memakai pakaian yang indah-indah atau
memakai pakaian yang di tegah oleh hukum syara’ maka dikatanya kepada orang
tuanya “wahai orang tuaku tiadalah suka tuhan kita kepada orang yang
bersuka-suka di dalam dunia ini” demikianlah hal ihwalnya dimasa kecil yakni
sebelum baligh.
Syahdan,
adalah halnya Tuan Syekh Sayyid Muhammad Samman itu selalu didalam dzikrullah
siang dan malam dan ia suka ‘uzlah artinya menjauhi dari pada bercampur dengan
manusia dan masuk khalwat dan melazimkan ziarah ke baqi’ yakni tempat pekuburan
segala istri nabi Muhammad SAW. di dalam negeri Madinah Rasul serta hampir
dengan mesjidnya pada tiap hari lalu ia berdzikir dan membaca qur’an di tempat
itu.
Dan
adalah halnya ra. pada ketika bidayahnya yakni pada permulaan dia menjalani
akan jalan thariqat dan hakikat ia memakai pakaian yang indah-indah kemudian
datanglah tuan Syekh Sayyid Abdul Qadir Al-jailani membawa baju jubah putih
padahal tuan Syekh Sayyid Muhammad Samman dalam khalwatnya, maka di pakaikanlah
oleh tuan Syekh Sayyid Abdul Qadir Al-jailani akan baju jubah itu kepada tuan
Syekh Sayyid Muhammad Samman Al-madani maka cukuplah tuan Syekh Sayyid Muhammad
Samman dengan baju jubah putih itu hingga sekarang. Dan kelakuan tuan Syekh
Sayyid Muhammad Samman pada ketika itu menyembunyikan akan ilmunya dan amalnya,
hingga datang kepadanya perintah dari hadirat Rasul menyuruh untuk menjahirkan
akan ilmu dan amalnya didalam negeri madinah Rasul seperti kejahiran matahari
pada ketika tengah hari, kemudian datanglah beberapa orang dari pada beberapa
negeri sebab mendengar khabar tentang tuan Syekh Sayyid Muhammad Samman didalam
negeri madinah Rasul maka banyaklah orang yang datang dari beberapa negeri
untuk mengambil thariqat kepadanya, dan orang yang datang kepadanya dari pada
raja-raja dan orang-orang kaya memberi hadiah kepadanya seperti emas dan perak
dan yang lainnya manakala sampai hadiah-hadiah itu kepadanya maka di bagikannya
kepada segala faqir dan miskin hingga habis tiada lagi tertinggal didalam
tangannya.
BERSAMBUNG . . . . .
No comments:
Post a Comment